Pomparan Raja Nai Ambaton
Pomparan Raja Nai Ambaton dohot Pinomparna
Diperkirakan
Op. Tuan Sorba Dijulu tinggal di sekitar Pusuk Buhit, dengan istrinya
nai ambaton yang merupakan boru pinompar ni Guru Tatea Bulan yang
diketahui nama op. boru itu adalah Siboru Anting Bulan yang marhuta di
huta Parik Sabungan (sudah ada yang pernah datang ketempat ini).
Diperkirakan
Tuan Sorba Dijulu merantau ke Dolok Paromasan, disinilah lahir
anak-anaknya Simbolon Tua, Tamba Tua, Saragi Tua, Munthe Tua (kita buat 4
dulu anaknya Tuan Sorba Dijulu karena Nahampun masuk Simbolon) dan satu
borunya Pinta Haomasan.
Namun
di satu sisi Tuan Sorba Dijulu dikatakan memiliki 2 orang istri, istri
pertama anaknya adalah Simbolon Tua sedangkan dari istri kedua anaknya
adalah Tamba Tua, Saragi Tua, dan Munthe Tua. Namun ketika itu dari
istri pertama lama lahir Simbolon Tua, sehingga lebih dulu lahir Tamba
Tua dari istri kedua. Setelah lahir Tamba Tua terlebih dahulu lahirlah
Simbolon Tua dari istri pertama, namun tidak diketahui apakah Saragi Tua
dan Munthe Tua dulukah yang lahir baru Simbolon Tua, atau Simbolon Tua
dulukah kemudian lahir Saragi Tua dan Munthe Tua dari istri kedua. Namun
menurut perkiraan kembali, lebih dulu lahir Saragi Tua baru Simbolon
Tua kemudian Munthe Tua, ini menurut analisa generasi dari tiap-tiap
keturunan yang ada hingga saat ini.
Lambat
laun anak-anak dan boru Tuan Sorba Dijulu bertumbuh besar, sampai pada
akhirnya Tamba Tua yang secara usia lebih sulung dari anak-anak Tuan
Sorba Dijulu dengan Simbolon Tua yang merasa dialah anak siakkangan
karena lahir dari istri pertama bertengkar berebut hak kesulungan,
sampai pada akhirnya pertengkaran ini didengar Tuan Sorba Dijulu,
akhirnya Tuan Sorba Dijulu dengan bijaksana menentukan siapakah yang
pantas dan memang sebenarnya yang menjadi sulung di Tuan Sorba Dijulu,
akhirnya Tuan Sorba Dijulu mengadu kedua anaknya, dikatakan siapa yang
berdarah atau terluka, dialah yang sianggian dan siapa yang tidak dialah
siakkangan. Maka diberikan senjata yang sama kepada mereka berdua,
senjata tersebut berupa ‘ultop’, namun ultop yang diberikan kepada Tamba
Tua adalah ultop yang ujungnya tumpul, sedangkan ultop yang diberikan
kepada Simbolon Tua adalah ultop yang runcing dan tajam. Dan akhirnya
rencana Tuan Sorba Dijulu pun berhasil, Tamba Tua terluka dan berdarah
dan secara otomatis menunjukkan Simbolon Tualah anak siakkangan, ini
merupakan cara Tuan Sorba Dijulu kepada mereka tanpa membuat tersinggung
mereka, tanpa adanya pemikiran pilih kasih.
Semenjak
hal tersebut, kejadian itu membuat Tamba Tua, Saragi Tua dan Munthe Tua
untuk pergi meninggalkan Dolok Paromasan, hingga akhirnya mereka
menemukan tempat baru di kecamatan Sitio-tio dan diberi nama Huta Tamba,
disinilah tinggal Tamba Tua, Saragi Tua, dan Munthe Tua. Namun tidak
alama pomparan Saragi Tua akhirnya merantau ke daerah Simanindo. Lama
pomparan mereka terus berkembang hingga membuat pinomparna pergi
merantau ke luar huta Tamba, akhirnya pomparan Tamba Tua banyak yang
merantau dan sebagian tinggal pomparannya di huta Tamba, mereka inilah
yang terus menggunakan marga Tamba hingga saat ini, sedangkan pomparan
Tamba Tua yang merantau pada akhirnya menjadi marga mandiri, dan
kebanyak mereka merantau ke daerah Simanindo, adapun marga-marga mandiri
keturunan Tamba Tua ini adalah Siallagan, Turnip, Si Opat Ama
(Sidabutar, Sijabat, Siadari, Sidabalok), Rumahorbo, napitu dan Sitio.
Di satu sisi, pomparan Saragi Tua hampir semua meninggalkan huta Tamba
dan hidup mandiri ke daerah Simanindo dan lain-lain, begitupun juga
dengan pomparan Munthe Tua yang merantau ke karo, barus, simalungun, dan
balik ke daerah pangururan dan lain-lain, namun masih ada sebagian dari
Pomparan Munthe Tua ini yang hingga saat ini tinggal dan menetap di
Huta Tamba.
Di
satu sisi ada cerita yang mengatakan semenjak kejadian perebutan hak
sulung, Tamba dan adiknya ingin dibunuh oleh Simbolon Tua karena dendam
kepada Tamba Tua yang telah merebut hak kesulungannya, namun rencana itu
diketahui itonya Pinta Haomasan, dan Pinta Haomasan menyuruh mereka
untuk pergi dari Dolok Paromasan.
Suatu
ketika, datanglah keturunan Saragi Tua, dari Op. Tuan Binur yang
diwakili oleh Si Mata Raja datang ke tanah Tamba untuk mengambil warisan
sang ayah dan sang opung yang ada di tanah Tamba, dan pada saat itu
disambut oleh Tamba bersaudara, setalah Mata Raja melaksanakan tugasnya
Mata Raja bertemu dengan Siallagan dan Turnip yang pada waktu itu
berperang melawan kerajaan dari Simalungun, maka karena Siallagan dan
Turnip merupakan saudaranya dibantulah mereka, sekilas akhirnya Mata
Raja berhasil mengusir musuh hingga lari ketar-ketir. Sejak saat itu,
maka Siallagan dan Turnip merasa sangat senang, maka dibuatlah padan
diantara mereka bertiga, dan Mata raja diajak untuk tinggal bersama
mereka, namun Mata Raja tidak mau dan lebih memilih untuk kembali ke
tempatnya.
Di
satu sisi, keturunan Munthe Tua banyak yang sudah merantau, salah
satunya Pangururan. Keturunan sulung Munthe Tua Raja Sitempang lahir
dengan keadaan cacat fisik, sehingga dia diasingkan oleh orangtuanya,
disana dia bertemu dengan si boru marihan yang juga lahir dengan keadaan
cacat fisik, anak dari Raja Sitempang adalah Raja Na Tanggang yang
merantau ke Pangururan dan menikahi boru Naibaho sehingga menetap dan
tinggal di Pangururan, di lain pihak ternyata adik dari boru Naibaho
istri Raja Na Tanggang ini dinikahi oleh keturunan Simbolon Tuan Nahoda
Raja, keturunan dari Simbolon Tua/boru Limbong. Mulai disinilah
terjadinya perbedaan pandangan karena Raja Na Tanggang yang merupakan
keturunan dari Munthe Tua menikahi boru naibaho siakkangan menganggap
dialah siabangan daripada Simbolon Tuan Nahoda Raja yang merupakan anak
Simbolon Tua yang menikahi boru naibaho siampudan. Muncullah katai damai
dari Tulang, rap marsihahaan rap marsianggian. Karena Sitanggang dan
Simbolon telah menikahi boru Raja Naibaho, maka diberikanlah kepada
Sitanggang dan Simbolon bius sebagai boru. Itulah yang dikenal dengan
nama bius si tolu aek horbo. Keturunan Raja Sitempang, Sitanggang Bau
pun bertemu dengan Gusar yang merupakan generasi ke 13 si Raja Batak
yang ketika itu membantu Sitanggang Bau melawan musuhnya. Anak-anak
Munthe Tua yang kedua dan ketiga yaitu Ompu Jelak Maribur dan Ompu Jelak
Karo yang merantau ke Simalungun, dan Ompu Jelak Karo ke tanah karo,
jadi salah bila beranggapan Munthe itu berasal dari karo, jadi dari
kedua ompu inilah yang masih menggunakan marga leluhurnya, namun bagi
yang di karo menjadi marga mandiri seperti Ginting sama seperti anak
siakkangan Munthe Tua yang menjadi marga mandiri Sitanggang.
Namun
ketika jaman Belanda, dimana Belanda untuk menguasai kekayaan bumi yang
ada di samosir di Pangururan memanggil raja-raja untuk dijadikan kepala
nagari, begitu juga dengan Sitanggang yang diberikan daerah kekuasaan
dengan menjadi Raja Pangururan karena dia memiliki sebagian besar bius
karena menikahi boru siakkangan Naibaho. Diperkkirakan disinilah
terjadinya turut campur Belanda dalam mencampuri dan membuat berantakan
tarombo, karena banyak raja-raja pada waktu itu tidak datang dan
diwakilkan oleh adiknya atau kepercayaannya yang masih satu marga, namun
tidak disangka mereka ditawarkan menjadi kepala nagari, ada yang
tergiur dan ada yang menolak hingga mereka yang dijadikan kepala nagari
itu yang merupakan utusan dari raja daerah/abangnya mengaku sebagai
abangan karena telah menjadi kepala nagari.
Dolok Paromasan terletak di daerah Pangururan, namun Dolok Paromasan ini adalah miliki Tuan Sorba Dijulu lain dengan kota Pangururan.
Dolok Paromasan terletak di daerah Pangururan, namun Dolok Paromasan ini adalah miliki Tuan Sorba Dijulu lain dengan kota Pangururan.
PINTA HAOMASAN
Namboru
Pinta Haomasan adalah boru sasada Tuan Sorba Dijulu yang tinggal di
Dolok Paromasan bersama dengan itonya Simbolon Tua, karena itonya Tamba
Tua dan adik-adiknya pergi meninggalkan akibat kejadian hak sulung.
Namboru Pinta Haomasan muli ke Raja Silahisabungan dengan anaknya
Silalahi Raja, karena pada saat itu pariban Silalahi Raja hanya ada dari
boru tulangnya Simbolon Tua, karena ketiga tulangnya telah meninggalkan
huta, maka Silalahi Raja mengambil boru Tulangnya dari Simbolon Tua
hingga beberapa generasi. Karena mengambil boru tulangnya dari Simbolon,
maka sama seperti yang dilakukan oleh Raja Naibaho kepada Simbolon maka
dilakukan juga hal tersebut kepada Silalahi Raja, diberikannlah bius
boru kepada Silalahi Raja, namun karena Simbolon Tua sadar bahwa tanah
leluhurnya Tuan Sorba Dijulu di Dolok Paromasan bukanlah hanya miliknya,
maka bius Tamba Tua, Saragi Tua dan Munthe Tua ikut diberikan
didalamnya.
Bius
disini bius di Dolok Paromasan berbeda dengan bius Pangururan yang
diberikan Raja Naibaho, karena diperkirakan Pangururan adalah wilayah
kekuasaan Tuan Sorimangaraja.
Marga Parna di Pak-pak dan Aceh
Banyak marga-marga parna yang merantau ke tanah pak-pak dan menjadi
besar, mulai dari keturunanya di Pak-pak dari keturunan Simbolon Tuan,
Sigalingging dan Munthe. Misalnya Tinambunan, Tumanggor, Maharaja,
Turuten, Pinayungan, Nahampun, dll, begitu juga marga Saraan, Kombih dan
Berampu yang berada di sekitar Aceh (Singkil).
Horong Marga-Marga Parna
Horong Marga-Marga Parna
SIMBOLON TUA
1. Simbolon Tuan Nahoda Raja
2. Tinambunan
3. Tumanggor
4. Ginting Tumangger (Tumanggor di tanah karo)
2. Tinambunan
3. Tumanggor
4. Ginting Tumangger (Tumanggor di tanah karo)
5. Maharaja
6. Turuten
7. Pinayungan
8. Nahampun
9. Simbolon Altong Nabegu
10. Simbolon Pande Sahata
11. Simbolon Juara Bulan
12. Simbolon Suhut Ni Huta
13. Simbolon Rimbang
14. Simbolon Hapotan
6. Turuten
7. Pinayungan
8. Nahampun
9. Simbolon Altong Nabegu
10. Simbolon Pande Sahata
11. Simbolon Juara Bulan
12. Simbolon Suhut Ni Huta
13. Simbolon Rimbang
14. Simbolon Hapotan
TAMBA TUA
1. Tamba Sitonggor
2. Siallagan
3. Turnip
4. Tamba Sitonggor
5. Tamba Lumban Tonga-tonga Guru Tatea Bulan
6. Tamba Lumban Tonga-tonga Guru Sinanti
7. Sidabutar
8. Gusar (keturunan Sijabat - Padan Sitanggang)
9. Sijabat
10. Saragi Dajawak (Sijabat di Simalungun)
11. Ginting Jawak (Sijabat di Karo)
12. Siadari
13. Sidabalok
14. Siambaton/Munthe Dolok Sanggul
15. Tamba Lumban Tonga-tonga Marhati Ulubalang
16. Tamba Lumban Tonga-tonga Raja Lumban Uruk
17. Rumahorbo
18. Napitu
19. Sitio
20. Sidauruk
21. Tamba Lumban Toruan Sidauruk
22. Ginting Suka/Sinisuka (Tamba di tanah karo)
SARAGI TUA
1. Simalango
2. Saing
3. Simarmata
4. Nadeak
5. Saragi
6. Sumbayak
7. Sidabukke (sebagian besar mayoritas mengaku sudah keluar dari parna)
MUNTHE TUA
1. Sitanggang bau
2. Sitanggang lipan
3. Sitanggang upar
4. Manihuruk
5. Sitanggang Silo (Raja silo II)
6. Sigalingging
7. Garingging
8. Tendang
9. Banuarea
10. Manik Kecupak
11. Bringin
12. Gajah
13. Barasa
14. Boang Manalu
15. Bancin
16. Saraan
17. Kombih
18. Berampu
19. Munthe
20. Haro Munthe
21. Saragi Damunthe
22. Dalimunte
23. Ginting Munthe
1. Tamba Sitonggor
2. Siallagan
3. Turnip
4. Tamba Sitonggor
5. Tamba Lumban Tonga-tonga Guru Tatea Bulan
6. Tamba Lumban Tonga-tonga Guru Sinanti
7. Sidabutar
8. Gusar (keturunan Sijabat - Padan Sitanggang)
9. Sijabat
10. Saragi Dajawak (Sijabat di Simalungun)
11. Ginting Jawak (Sijabat di Karo)
12. Siadari
13. Sidabalok
14. Siambaton/Munthe Dolok Sanggul
15. Tamba Lumban Tonga-tonga Marhati Ulubalang
16. Tamba Lumban Tonga-tonga Raja Lumban Uruk
17. Rumahorbo
18. Napitu
19. Sitio
20. Sidauruk
21. Tamba Lumban Toruan Sidauruk
22. Ginting Suka/Sinisuka (Tamba di tanah karo)
SARAGI TUA
1. Simalango
2. Saing
3. Simarmata
4. Nadeak
5. Saragi
6. Sumbayak
7. Sidabukke (sebagian besar mayoritas mengaku sudah keluar dari parna)
MUNTHE TUA
1. Sitanggang bau
2. Sitanggang lipan
3. Sitanggang upar
4. Manihuruk
5. Sitanggang Silo (Raja silo II)
6. Sigalingging
7. Garingging
8. Tendang
9. Banuarea
10. Manik Kecupak
11. Bringin
12. Gajah
13. Barasa
14. Boang Manalu
15. Bancin
16. Saraan
17. Kombih
18. Berampu
19. Munthe
20. Haro Munthe
21. Saragi Damunthe
22. Dalimunte
23. Ginting Munthe
* Namun ini masih membutuhkan penyempurnaan yang lebih lagi
Pesan atau Tona dari Ompung Raja Nai Ambaton tu Pinomparna PARNA
Di
hamu sude pinomparhu na mamungka huta di desa naualu di Tano Sumba, di
na manjujung baringin ni Raja Harajaon ni Raja Isumbaon. Partomuan ni
aek Partomuan ni Hosa. Mula ni jolma tubu, mula ni jolma sorang. Asa
tonahonon ma tonangkon tu ganup pinomparmu ro di marsundut-sundut. Asa
sisada anak, sisada boru…. Hamu sisada lungun, sisada siriaon, naunang,
natongka, na so jadi masibuatan hamu di pinompar muna manjujung goarhu
Si Raja Nai Ambaton Tuan Sorba di Julu Raja Bolon. Asa ise hamu di
pomparanhu namangalaosi tonangkon, tu hauma i sitabaon, tu tao ma i
sinongnongon, tu harangan mai situtungon. Sai horas horas ma hamu sude
pinomparhu di namangoloi podangki.
Ima padan nasoboi oseon
Si ingoton ni angka pinomparnai
Diparrohahon mai denggan-denggan
Ditikki mambahen pesta parna i
Tung tarida do sada ni roha
Naso jadi marsiolian parnai
Diparrohahon mai denggan-denggan REFF:
Naimbaton baima parna
sitokka doi dainang
sitokka doi dainang marsiolian
Ai molo disimalungun parnai
disaragihon ma muse margana
lao muse tu Tano Karo parnai
Dibahen madisi marga Ginting
Ai molo ditano Pakpak parnai
dibahen ma Banurea
lao muse ma da tu selatan parnai
dibahen ma disi Dalimunthe REFF:
Sadia godang anak ni parna
tung naso jadi doi
tung naso jadi doi marsiolian
NB. Disatu sisi ada versi lain yang mengatakan bahwa Simbolon Tua bersama Pinta Haomasan adalah anak Tuan Sorba Dijulu dari istri kedua sedangkan istri pertama melahirkan Tamba Tua, Saragi Tua, Munthe Tua dan Nahampun Tua.Dimana Simbolon Tua yang lebih tua lahir duluan dari istri kedua mengambil semua harta ayahnya, suatu ketika Tamba Tua datang untuk meminta bagian dari Tamba Tua dan adik-adiknya namun Simbolon Tua tidak mengindahkannya dan mengabaikannya, sejak saat itu pergilah Tamba Tua dan adiknya Saragi Tua, Munthe Tua dan Nahampun Tua. Oleh karena itu ketika lahir Simbolon Tua dari istri kedua Tuan Sorba Dijulu diberi nama Ompu Raja Nabolon karena lebih dulu lahir Simbolon Tua daripada Tamba Tua. Jadi dari segi urutan lahir, maka Simbolon menjadi yg Sulung bagi mereka semua yg satu ayah walau berbeda ibu. Dibelakang hari, konon terjadi perselisihan sesama mereka, agaknya perselisihan itu adalah antara yg paling tua dgn adek-adeknya, sehingga konon empat adeknya (Tamba, Saragi, Munthe, Nahampun) nekad meninggalkan SImbolon - Tamba ke negeri Tamba, Saragi ke SImalungun tapi dimasa tua pulang lagi ke Samosir, Munthe ke Paropo, Nahampun ke Dairi. Dikemudian hari, konon Simbolon merindukan adek2nya (mungkin ia kesepian, mungkin ia diejek orang lain, mungkin ia butuh kekuatan) lalu mulai mencari supaya hubungan persaudaraan dipulihkan kembali. Satu-satunya yg mudah ia temukan adalah keluarga Tamba di negeri Tamba, sebab masih dekat dari Samosir, yg lainnya jelas sulit dijangkau apalagi bayangkan dimasa kuno dulu betapa sulitnya komusikasi dan transportasi dan keamanan. Yg terakhir sekali, Saragi Tua juga merindukan kampungnya dan saudaranya maka ia pulang, konon katanya Saragi Tua pulang sdh pakai DETAR (detar adalah pertanda sdh memiliki ilmu yg tinggi, sdh biasanya yg begini sdh pantas jadi tempat berguru dan punya murid). Dan Tamba Tualah yang menikahkan Pinta Haomasan kepada Raja Silahisabungan dan pada saat itu Simbolon Tua tidak tau entah kemana. Namun penyebaran pomparannya hampir kurang lebih sama seperti diatas. namun apabila versi ini adalah benar adanya seharunya Tamba Tualah sulung di Parna dan Simbolon Tualah siampudan/bungsu di Parna. Jadi anak Tuan Sorba Dijulu dari 2 istri ialah :
istri pertama
1. Tamba Tua
2. Saragi Tua
3. Munthe Tua
4. Nahampun Tua
istri kedua
1. Simbolon Tua
2. Pinta Haomasan
Komentar
Posting Komentar